Soft news
Evita Nur Apriliana lahir di Boyolali, 10 April 2000. Merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayah seorang guru yang mengajar di salah satu SMP di Semarang. Ibunya telah wafat empat tahun yang lalu waktu dia masih duduk di bangku SMA.
Baginya, sosok Ibu adalah motivasi terbesar dalam hidupnya. Oleh karena itu, semenjak Ibunya wafat, Evita mencoba menyibukkan diri untuk melupakan kesedihan dan kesendiriannya. Evita menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai macam ekstrakurikuler di SMA mulai dari ROHIS, Pramuka, PMR, KIR, hingga kursus komputer. Keterlibatanya yang aktif dalam banyak ekstra tersebut membuatnya lebih akrab dengan beberapa guru.
Dari situlah dia mulai menjajaki banyak kegiatan dan perlombaan mulai dari Lomba Cerdas Cermat PKn, Audisi Duta Seni, Lomba Cerdas Cermat PAI, Lomba Tembang Mocopat, Lomba Cerita Islami hingga lomba menuis resensi buku, namun belum pernah mendapat juara. Meskipun begitu semangat berprestasi tidak pernah meredup dari jiwa gadis cantik itu.
Beruntung, Evita mempunyai seorang guru yang selalu menyemangati dan mendukungnya untuk terus berprestasi. Berkat kegigihan dan bantuan dari gurunya, pada pertengahan April 2016 tulisannya mengenai Cerita Asal Usul Legenda daerah di Boyolali mendapat predikat penulis terbaik dan tulisannya menjadi juara satu se kabupaten. Satu bulan berikutnya dia terpilih untuk belajar Tari Gandrung Banyuwangi pada Maestro Gandrung Temu Misti di Banyuwangi. Kelas 12 SMA dia mendapat beasiswa dari Dahuni Foundation sampai sekarang. Baginya, beasiswa merupakan salah satu motivasi untuk lebih giat belajar dan meningkatkan kemampuan.Sekarang Evita merupakan mahasiswa semester lima PAI di UIN Walisongo. Selain itu, dia juga seorang santriwati di pondok pesantren Fadhlul Fadlan Mijen.
Sebagai seorang yang masih muda, semangat untuk berprestasi ada naik turunnya. Beruntung sekali Evita mempunyai dosen dan Kiyai yang mendukung dan memotivasi untuk berprestasi. Evita menuturkan bahwa dosennya memotivasi dia untuk banyak menulis dan membaca supaya pemikirannya lebih berkembang.
Belum lama ini, Evita berhasil mendapat juara kedua dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri Tingkat Jawa Tengah 2019 dengan subtema “Transformasi Budaya Pesantren bagi Perdamaian Dunia” yang diadakan oleh Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah tanggal 20 Oktober 2019bdi Rembang. Belakangan ini dia sering mengambil tema besar mengenai “pesantren” dalan beberapa perlombaan karya ilmiahnya. Evita menuturkan alasan ketertarikannya untuk meneliti tentang kepesantrenan karena dia melihat bahwa banyak hal yang unik dan menarik untuk dikaji dan dipelajari dari santri dan pesantren. “...bagi orang-orang yang baru yang awam yang sebelumnya belum pernah masuk pesantren kayak saya memandang bahwa pesantren itu sesuatu yang unik gitu, beda dari lembaga pendidikan yang lain, banyak yang bisa dieksplor, tapi banyak bocah santri gak sadar kalau mereka itu unik dan menarik...” terang Evita penuh semangat.
Harapan Evita dengan karya-karyanya tersebut dapat memotivasi para santri untuk lebih percaya diri dengan keunikannya dan lebih mengeksplor bakat dan kemampuannya. Juga meluruskan stigma tentang pesantren yang kumuh yang bisanya cuman ngaji saja tetapi juga bisa berprestasi dan tidak kalah dengan yang lain. “...banyak figur pesantren yang berprestasi tapi jarang yang menjadi sorotan...”tambah Evita. Jadi untuk kalian para santri, siapa lagi yang akan membesarkan santri dan pesantren jika bukan kalian sendiri?
Penulis: Ida Nurjannah
Subscribe to:
Comments (Atom)
Menentukan Invers dari Suatu Fungsi
Haii, sobat math.zone, kali ini kita akan mempelajari bagaimana menentukan invers dari fungsi Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat menen...
-
MAKALAH PENGERTIAN JURNALISTIK Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Jurnalistik Dosen: Nanang Qosim, M. Pd Oleh: ...
-
Haii, sobat math.zone, kali ini kita akan mempelajari bagaimana menentukan invers dari fungsi Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat menen...
-
Koleksi buku yang dikumpulkan susah payah seumur hidup tidak ada artinya bila hanya sebagai pajangan – Paulo Coelho Bagi seorang mahasi...
