Koleksi buku yang
dikumpulkan susah payah seumur hidup tidak ada artinya bila hanya sebagai
pajangan – Paulo Coelho
Bagi seorang
mahasiswa, membaca buku dari berbagai literatur adalah sebuah tuntutan. Kenapa?
Karena seringnya tugas yang diberikan oleh dosen tidak bisa ditemukan hanya
dalam satu referensi. Keterangan yang diberikan dosen hanyalah sekelumit
materi, jika seorang mahasiswa hanya mengAndalkan perkuliahan di dalam kelas,
maka kedangkalan ilmulah yang ia dapat. Pendalaman pemahaman akan suatu materi
harus dilakukan secara mandiri melalui membaca berbagai referensi baik
buku maupun artikel- artikel
dalam jurnal.
Membaca merupakan
suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan.
Membaca berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Aktifitas membaca akan
memberikan beberpa informasi baru,sehingga
ide-ide baru pun akan muncul dengan sendirinya.
Membaca banyak
manfaatnya seperti membantu memecahkan masalah, memperkuat keyakinan pembaca,
meningkatkan prestasi dan memperluas pengetahuan. Kita sadari bahwa ketidaksukaan dalam membacabersumber dari
ketidakmampuan kita dalam memahami isi dari buku atau bacaan yang kita baca.
Bagi seorang mahasiswa yang notebene seorang pelajar, tentunya akan sangat
memuaskan jika dapat berprestasi. Salah satu cara untuk dapat berprestasi adalah dengan banyak membaca.
Sayangnya, minat baca
di kalangan mahasiswa UIN Walisongo dapat dikatakan rendah. Hal ini dapat
dilihat dari intensitas pengunjung yang ada di perpustakaan yang naik turun.
Jika diperhatikan, pengunjung perpustakaan setiap harinya sebagian besar adalah
orang yang sama. Maksudnya, pengunjung perpustakaan hari ini adalah pengunjung
perpustakaan yang
kemarin. Ditambah lagi, mayoritas dari mereka adalah mahasiswa tingkat akhir
yang memang sedang mengerjakan tugas akhir yang membutuhkan banyak referensi.
Sebagiannya lagi adalah mereka yang hanya menikmati wifi UIN Walisongo
untuk kebutuhan hiburan seperti youtub-an, mendowload film, dan bermain game
online. Lebih parah lagi, karena malasnya membaca, beberapa mahasiswa
mengerjakan tugas hanya dengan meng-copy paste dari blog atau web di
internet.
Perpustakaan dengan
ratusan bukunya juga langganan jurnal internasional yang menghabiskan budget
ratusan juta seakan tak berguna jika tidak dimanfaatkan dan digunakan dengan
sebaik-baiknya. Mungkin mahasiswa perlu diingatlan kembali betapa pentingnya
banyak membaca buku. Bukan hanya menambah wawasan dan pengatahuan, dilansir
dari gramedia.com selain meningkatkan kecerdasan, dengan membaca buku
ternyata dapat meningkatkan daya konsentrasi, mengurangi stress dan
mencegah penyakit alzheimer.
Terdapat istilah
literasi media, menurut Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik
Kementrian Komunikasi dan Informastika Rosarita Niken Widiastuti mengatakan
bahawa literasi media sangat berdekatan dengan minat baca seseorang. Ditengah
derasnya gelombang informasi, seorang mahasiswa harus menguasai literasi media
sehingga tak keliru dalam menyikapi informasi yang berselliweran. Seorang anak
yang terliterasi dengan baik pasti memiliki minat baca yang tinggi. Hal itu
membuat dia mengerti bagaiman harus menyikapi segala hal.
Di era digital
seperti sekarang ini, literasi sangat penting untuk dikuasai. Terutama bagi
para mahasiswa. Di dalam Internet, tidak semua informasi benar dan dapat dipat
dipercayai kevalidannya. Di dalamnya banyak juga terselip informasi-informasi
yang tidak benar atau berita bohong juga berita-berita yang ofensif dan
provokatif dan ujaran kebencian. Dengan memiliki kemampuan literasi, mahasiswa
tidak akan menelan berita secara mentah-mentah. Mereka akan berpikir kritis dan
logis karena menerima informasi pembanding.
Faktanya, Indonesi
dengan tingkat pengguna media sosial yang tinggi berbanding terbalik dengan
tingkat minat bacanya. Hal ini berdasarkan dari hasil penelitian yang
menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki minat baca terendah
kedua yaitu 0,001 persen dan menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Dengan
adanya fakta tersebut, kurangnya minat baca mengakibatkan rendahnya penguasaan
ilmu pengetahuan dan kemampuan berfikir kritis sehingga menjadikan Indonesia
sebagai sasaran empuk bagi setiap berita hoax yang tersebar lewat
jejaring sosial. Kemampuan literasi yang rendah dikalangan mahasiswa
menyebabkan suatu berita spektakuler begitu mudah dipercaya dan tersebar tanpa
perlu verifikasi dari sumber-sumber yang terpercaya.
Semua masalah yang telah
dijabarkan diatas, berawal dari masalah kurangnya minat baca. Lingkungan dapat
mempengaruhi kepribadian dan kebiasaan seseorang. Saya pribadi belum pernah
menemui adanya kelompok atau club yang kegiatnnya khusus mengenai
pentingnya literasi ataupun berdiskusi tentang buku yang telah selesai dibaca.
Mengingat betapa pentingnya minat baca yang tinggi untuk dimiliki oleh seorang
mahasiswa, hendaknya budaya membaca dapat dibangkitkan lagi di lingkungan
kampus yaitu dimulai dari diri sendiri. Seperti quote yang populer “Perubahan
besar berawal dari perubahan dalam diri sendiri”.
No comments:
Post a Comment