Sunday, December 1, 2019

Membangkitkan Minat Baca Mahasiswa

Koleksi buku yang dikumpulkan susah payah seumur hidup tidak ada artinya bila hanya sebagai pajangan – Paulo Coelho

Bagi seorang mahasiswa, membaca buku dari berbagai literatur adalah sebuah tuntutan. Kenapa? Karena seringnya tugas yang diberikan oleh dosen tidak bisa ditemukan hanya dalam satu referensi. Keterangan yang diberikan dosen hanyalah sekelumit materi, jika seorang mahasiswa hanya mengAndalkan perkuliahan di dalam kelas, maka kedangkalan ilmulah yang ia dapat. Pendalaman pemahaman akan suatu materi harus dilakukan secara mandiri melalui membaca berbagai referensi baik buku maupun artikel- artikel dalam jurnal.
Membaca merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Membaca berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Aktifitas membaca akan memberikan beberpa informasi baru,sehingga ide-ide baru pun akan muncul dengan sendirinya.
Membaca banyak manfaatnya seperti membantu memecahkan masalah, memperkuat keyakinan pembaca, meningkatkan prestasi dan memperluas pengetahuan. Kita sadari bahwa ketidaksukaan dalam membacabersumber dari ketidakmampuan kita dalam memahami isi dari buku atau bacaan yang kita baca. Bagi seorang mahasiswa yang notebene seorang pelajar, tentunya akan sangat memuaskan jika dapat berprestasi. Salah satu cara untuk dapat berprestasi adalah dengan banyak membaca.
Sayangnya, minat baca di kalangan mahasiswa UIN Walisongo dapat dikatakan rendah. Hal ini dapat dilihat dari intensitas pengunjung yang ada di perpustakaan yang naik turun. Jika diperhatikan, pengunjung perpustakaan setiap harinya sebagian besar adalah orang yang sama. Maksudnya, pengunjung perpustakaan hari ini adalah pengunjung perpustakaan yang kemarin. Ditambah lagi, mayoritas dari mereka adalah mahasiswa tingkat akhir yang memang sedang mengerjakan tugas akhir yang membutuhkan banyak referensi. Sebagiannya lagi adalah mereka yang hanya menikmati wifi UIN Walisongo untuk kebutuhan hiburan seperti youtub-an, mendowload film, dan bermain game online. Lebih parah lagi, karena malasnya membaca, beberapa mahasiswa mengerjakan tugas hanya dengan meng-copy paste dari blog atau web di internet.
Perpustakaan dengan ratusan bukunya juga langganan jurnal internasional yang menghabiskan budget ratusan juta seakan tak berguna jika tidak dimanfaatkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Mungkin mahasiswa perlu diingatlan kembali betapa pentingnya banyak membaca buku. Bukan hanya menambah wawasan dan pengatahuan, dilansir dari gramedia.com selain meningkatkan kecerdasan, dengan membaca buku ternyata dapat meningkatkan daya konsentrasi, mengurangi stress dan mencegah penyakit alzheimer.
Terdapat istilah literasi media, menurut Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik Kementrian Komunikasi dan Informastika Rosarita Niken Widiastuti mengatakan bahawa literasi media sangat berdekatan dengan minat baca seseorang. Ditengah derasnya gelombang informasi, seorang mahasiswa harus menguasai literasi media sehingga tak keliru dalam menyikapi informasi yang berselliweran. Seorang anak yang terliterasi dengan baik pasti memiliki minat baca yang tinggi. Hal itu membuat dia mengerti bagaiman harus menyikapi segala hal.
Di era digital seperti sekarang ini, literasi sangat penting untuk dikuasai. Terutama bagi para mahasiswa. Di dalam Internet, tidak semua informasi benar dan dapat dipat dipercayai kevalidannya. Di dalamnya banyak juga terselip informasi-informasi yang tidak benar atau berita bohong juga berita-berita yang ofensif dan provokatif dan ujaran kebencian. Dengan memiliki kemampuan literasi, mahasiswa tidak akan menelan berita secara mentah-mentah. Mereka akan berpikir kritis dan logis karena menerima informasi pembanding.
Faktanya, Indonesi dengan tingkat pengguna media sosial yang tinggi berbanding terbalik dengan tingkat minat bacanya. Hal ini berdasarkan dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki minat baca terendah kedua yaitu 0,001 persen dan menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Dengan adanya fakta tersebut, kurangnya minat baca mengakibatkan rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan berfikir kritis sehingga menjadikan Indonesia sebagai sasaran empuk bagi setiap berita hoax yang tersebar lewat jejaring sosial. Kemampuan literasi yang rendah dikalangan mahasiswa menyebabkan suatu berita spektakuler begitu mudah dipercaya dan tersebar tanpa perlu verifikasi dari sumber-sumber yang terpercaya.
Semua masalah yang telah dijabarkan diatas, berawal dari masalah kurangnya minat baca. Lingkungan dapat mempengaruhi kepribadian dan kebiasaan seseorang. Saya pribadi belum pernah menemui adanya kelompok atau club yang kegiatnnya khusus mengenai pentingnya literasi ataupun berdiskusi tentang buku yang telah selesai dibaca. Mengingat betapa pentingnya minat baca yang tinggi untuk dimiliki oleh seorang mahasiswa, hendaknya budaya membaca dapat dibangkitkan lagi di lingkungan kampus yaitu dimulai dari diri sendiri. Seperti quote yang populer “Perubahan besar berawal dari perubahan dalam diri sendiri”.

No comments:

Post a Comment

Menentukan Invers dari Suatu Fungsi

Haii, sobat math.zone, kali ini kita akan mempelajari bagaimana menentukan invers dari fungsi Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat menen...